Avanza Merajai Bursa Low MPV

avanza 2017

Hingga akhir Januari 2017 kemarin, statistik penjualan produk Avanza Low MPV dalam bursa otomotif nasional masih menunjukan bila jagoan Toyota Astra Motor yang baru diluncurkan pada tahun 2015 lalu yakni Grand New Avanza masih merajai segmen paling prestisius ini. Awal yang baik di tahun baru ini mengindikasikan bila dominasi Avanza tampaknya masih sangat sulit digoyahkan oleh produk apapun dari brand manapun yang ada di kelas LMPV.

Bahkan mungkin bukan hanya di segmen LMPV saja, Avanza yang merupakan maskot dari Toyota Indonesia sepertinya diyakini tetap menjadi tulung punggung sekaligus ujung tombak penjualan dari manufaktur nomor satu dunia tersebut di tanah air. Meskipun kini telah hadir produk baru dari Toyota Astra Motor yang turun di segmen MPV LCGC bernama Calya namun konsistensi Avanza meraup penjualan tertinggi selama 13 tahun terakhir membuat TAM masih menempatkan “Mobil Sejuta Umat” ini di garda terdepan.

Sepertinya garis perjalanan Avanza di 2017 ini masih akan sama seperti tahun – tahun sebelumnya yakni menjadi pemuncak dari segmen Low MPV. Sebagai catatan saja, di tahun 2016 kemarin walau sempat tergeser oleh “adiknya” yaitu Calya terutama pada bulan – bulan awal kehadiran sang 7 seater LCGC tersebut, namun secara keseluruhan Avanza jauh lebih perkasa dalam berkontribusi menyumbangkan pundi – pundi unit penjualan bagi produsennya.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau GAIKINDO mencatat bila dari Januari – Desember 2016 dealer mobil Toyota di Indonesia berhasil mencatatkan penjualan Avanza sebanyak 122.654 unit. Sedangkan total penjualan di kelas LMPV pada periode tersebut adalah sebesar 249.931 unit, itu artinya sang Avanzatos menguasai hampir separuh atau lebih tepatnya 49 persen pangsa pasar di segmen yang konon paling ketat tingkat persaingannya tersebut.

Begitu dominannya Avanza hingga rasanya dogma “segmen paling ketat persaingannya” perlu dipertanyakan lagi. Menguasai 49 persen market share itu sama saja artinya membiarkan para kompetitor seperti Ertiga, APV, Mobilio, Livina bahkan “saudara kembarnya” sendiri sesama produk Astra yakni Xenia harus berjibaku keras atau mungkin saling bunuh demi memperebutkan sisa 51 persen pasar yang tersedia.

Jangan membandingkan penjualan mobil Avanza yang merupakan jawara sejati Low MPV dengan peringkat di bawahnya. Untuk informasi saja, Daihatsu Xenia yang menempati posisi runner up hanya mampu membukukan penjualan sebanyak 44.720 unit atau kira – kira ekuivalen dengan sepertiga dari hasil yang dicatatkan Avanza dalam kurun waktu yang sama.

Angka tersebut tentu makin mengecil di peringkat ketiga, keempat dan seterusnya, sangat tidak adil rasanya bila menyandingkan angka penjualan peringkat ketiga dan seterusnya dengan raihan penjualan yang berhasil dicapai oleh Avanza. Ilustrasi diatas menunjukan secara jelas dan kasat mata betapa lebar dan dalamnya jurang pemisah antara Avanza dengan para pesaingnya.

Bagi mereka yang tidak terlalu update dengan perkembangan otomotif nasional mungkin tulisan ini terlalu bombastis, namun untuk mereka yang rajin mengamati berita otomotif tanah air pasti menyadari bahwa suka tidak suka ini adalah realitas.
Ya, kenyataan itulah yang harus dihadapi oleh para kompetitor dari Toyota Avanza, setiap produsen harus memikirkan secara lebih serius inovasi atau strategi apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan laju sang raja yang setiap tahun terlihat kian beringas. Karena bila hal ini tidak diantisipasi oleh para pesaingnya bisa jadi pangsa pasar Avanza akan mencapai lebih dari 50 persen pada tahun 2017 ini.

Toyota Avanza Makin Diminati Konsumen

Setelah resmi berpisah dengan Avanza, popularitas Grand New Veloz justru kian melonjak tajam. Strategi Toyota Astra Motor untuk menjadikan Veloz menjadi model tersendiri terbukti mampu membuat popularitas mantan variant tertinggi dari mobil Avanza itu meningkat pesat. Keberanian TAM melepaskan status sebagai versi mewah dengan menghadirkan type bermesin 1.3L ternyata mendapat sambutan baik dari masyarakat tanah air.

Sebagaimana diketahui selama ini Veloz seolah mempunyai status khusus dari klan Avanza yakni sebagai model teratas yang hanya tersedia dalam versi bermesin 1500cc saja. Dengan status seperti itu mau tak mau harus diakui membuat pangsa pasar Veloz sedikit terkotak, sang Velocity ini jelas tak leluasa menjangkau pasar konsumen entry level yang umumnya cenderung memilih Avanza karena mempunyai tipe bermesin 1.3L yang tentunya lebih ekonomis baik dari segi harga maupun konsumsi bahan bakar.

TAM selaku manufaktur paling berpengalaman di Indonesia tentu melihat kegelisahan di tengah masyarakat khususnya para penggemar mobil MPV mereka ini. Dengan memisahkan Avanza dengan Veloz kini konsumen bisa lebih bebas memilih tipe mobil idamannya sesuai dengan kebutuhan, selera maupun budget yang tersedia.

Namun meski kini menjadi model mandiri yang terlepas dari Avanza, bukan berarti Veloz terlepas sama sekali dari kompatriot yang telah bersama – sama selama belasan tahun menguasai pasar MPV nasional tersebut. Secara konsep serta prinsip product kedua mobil keluarga murah Toyota ini sejatinya masih tetap sama seperti ketika mereka masih bersatu, hanya saja TAM lebih menonjolkan karakteristik dari kedua flagship utamanya itu terutama melalui desain tampilan luar maupun tata ruang dalam kabin kendaraan.